Untuk “membuang masa”, kadangkala saya–atau sebagian dari kita–memilih untuk bercengkrama dengan robot. Bukan, yang saya maksud bukan robot seperti Transformers atau sejenisnya, melainkan robot berupa piranti digital. Sebut saja namanya chatbot atau robot percakapan.

“Gombalin aku dong, Google” perintah saya pada asisten virtual Google suatu ketika.

Tak mengherankan memang jika Google Virtual Assistant bisa mengakomodasi berbagai permintaan “nyeleneh” dari pengguna, secara ia adalah produk buatan salah satu perusahaan teknologi informasi (TI) terbesar di dunia. Dan saya rasa, Google sukses membuat sebuah perangkat yang tidak hanya membantu manusia, tetapi juga menghibur. Terutama bagi mereka yang mudah bosan dan/atau tidak memiliki teman. Eh.

Tapi omong-omong, pernah tidak Anda bertanya-tanya, sejauh apa hubungan manusia dengan kecerdasan buatan tersebut?

Sejarah Perkembangan Kecerdasan Buatan

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebenarnya bukanlah barang baru. Dikutip dari laman livescience, AI, secara formal, ditemukan sejak tahun 1956 dalam sebuah konferensi di Dartmouth College, Hanover, New Hampshire. Saat itu seorang saintis dari MIT, Marvin Minsky, sangat optimis terhadap masa depan AI. Meskipun demikian, proses mencapai kecerdasan buatan yang sudah marak seperti sekarang ini bukan sesuatu yang simpel. Perkembangan AI jatuh bangun karena persoalan dana dan sebagainya.

Perkembangan AI agaknya baru gencar di akhir tahun 1990-an dan di awal abad ke-21. AI mulai dipakai untuk logistik, penambangan data, diagnosa medis dan bidang lainnya. Kesuksesan AI tidak terlepas dari meningkatnya daya komputasional, perhatian dan penekanan yang lebih besar pada pemecahan masala, hubungan AI dengan bidang-bidang lainnya (seperti statistik, ekonomi dan matematik). Tentu juga tidak terlepas dari komitmen peneliti untuk mengembangkan tekonologi tersebut.

Singkat cerita, barulah pada tahun 2015 AI dikembangkan dengan masif. Tahun 2015 bahkan disebut sebagai “landmark year for artificial intelligence“. Beberapa perusahaan besar mengembangkan proyek perangkat lunak yang menggunakan AI. Google hanya salah satunya, sebab raksasa teknologi lainnya seperti Microsoft mengembangkan sistem Skype yang mealihbahasakan secara otomatis teks dalam satu bahasa ke bahasa lain. Facebook juga mengembangkan sistem untuk mendeskripsikan gambar bagi orang-orang yang tidak bisa melihat.

Kecerdasan Buatan di Sekitar Kita

Hari ini, tentunya kita sudah sangat terbiasa dengan kehadiran kecerdasan buatan atau AI tadi. AI bahkan menjadi teman harian kita. Dari saat kita terbangun di pagi hari, hingga terlelap kembali di malam hari, hidup kita selalu ditemani teknologi berbasis AI.

Mungkin Anda bertanya-tanya, teknologi apa dalam keseharian kita yang menggunakan AI. Salah satunya adalah hal yang paling dekat dan selalu lekat dengan tangan kita, yaitu smartphone atau ponsel pintar. Beragam fitur-fitur berbasis AI bisa kita temukan di dalam ponsel pintar. Umumnya berupa smart assistant, atau fitur-fitur kamera dalam mendeteksi wajah secara otomatis dan sebagainya.

Sebenarnya tidak hanya ponsel pintar saja, teknologi lain seperti media sosial, video game hingga perangkat GPS juga menggunakan AI dalam menjalankannya. Selain itu, beberapa provider selular juga mengembangkan AI dalam layanan pelanggan (customer service) mereka. Salah satunya adalah  Veronika asisten virtual Telkomsel yang dirilis sejak Agustus 2017 lalu.

Lebih jauh lagi, sebenarnya ada produk AI yang lebih “mengerikan” seperti AI Humanoid Robot yang dikembangkan oleh orang-orang di luar sana. Robot ini dibuat seperti manusia dan bisa belajar dari manusia. Jika yang dipelajari itu adalah hal yang baik, tidak masalah. Bagaimana jika hal yang buruk?

“Memang manusia mau mengajarkan yang buruk?”

Jangan ditanya, SimSimi saja bisa diajarkan kata-kata yang tidak semestinya. Hmm.

Sikap Terbaik dalam Menanggapi AI dan Serba-serbinya

Meski manusia dikatakan makhluk sempurna, nyatanya kita tidak bisa menahan laju zaman. Jangankan menahan laju teknologi, menahan pemanasan global saja kita uring-uringan dan membuat aliansi global. Yah, meskipun sebagian besar manusia berkepala (rambut) hitam, isi kepalanya belum tentu sama. Pemikiran dan perilakunya juga berbeda.

Kalau begitu, apa sikap terbaik kita dalam menanggapi teknologi AI ini?

Nah, karena tulisan ini saya letakkan di kategori “ngoceh” alias opini, solusi yang saya tawarkan tentu juga berdasarkan subjektivitas saya pribadi. Anda bisa menerimanya atau tidak, itu hak Anda.

Pertama, gunakanlah AI sebagaimana mestinya. Teknologi AI tentu dikembangkan untuk memberikan kemudahan bagi manusia. Gunakanlah dengan bijak sebagaimana tujuan perangkat tersebut diciptakan. Berhibur dengan AI–seperti meminta AI memuji Anda dan sebagainya–memang bukan hal yang terlarang, tapi banyak hal produktif lain yang kita bisa lakukan selain itu.

Kedua, jangan harapkan AI untuk semua tugas atau kegiatan. Meskipun di masa yang akan datang bisa saja robot menggantikan sebagian besar kegiatan manusia, tapi saat ini teknologi yang ada baru bisa menangani beberapa kebutuhan dengan kompleksitas rendah. Kita tetap butuh bantuan manusia lain untuk menyelesaikan permasalahan kita. Terutama masalah yang berkaitan dengan rasa atau perasaan. Hmm.

Ketiga, terakhir tapi tak kalah penting, kembalikanlah semua perkembangan teknologi di dunia ini sebagai bentuk kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Ilmu manusia, sehebat apapun, tidak akan pernah mengalahkan ilmu yang dimiliki Tuhan. Meski manusia sudah bisa membuat partikel tuhan ataupun matahari buatan, nyatanya kita tidak lebih baik dari sebutir debu di hadapan-Nya.

Kecerdasan buatan (AI) dan teknologi lainnya hanyalah alat. Seberapa bergunanya sebuah alat tentu sangat bergantung dengan seperti dan untuk apa ia digunakan. Mari bijak menggunakan teknologi agar kita bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.[]

error: Konten dilindungi