Melirik Potensi Biogas Sebagai EBT yang Tidak Merusak Hutan dan Cocok Bagi Masyarakat Urban

oleh | Mar 19, 2021 | Featured, Pengetahuan

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu alasan utama yang membuat negeri kita masih terikat dengan sumber energi fosil adalah investasi untuk Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang mahal. Dikutip dari siaran pers Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Desember 2019 lalu, biaya invetasi yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit listrik EBT mencapai 36,95 miliar dolar Amerika atau setara dengan 534 triliun rupiah–itupun baru sebatas biaya yang dibutuhkan dalam 5 tahun pembangunan.

Nah, jika dibandingkan dengan rata-rata APBN tahunan, itu mencapai seperempat dari total anggaran pendapatan dan belanja negara tersebut. Jumlah yang sangat fantastis, bukan?

Jika pikiran Anda mulai bertanya-tanya kenapa bisa semahal itu, tenang saja, Anda tidak dalam tahap meragukan pemerintah atau sebagainya. Itu adalah sesuatu yang normal.

Faktanya, anggaran yang besar tadi tidak hanya dibutuhkan untuk mendatangkan teknologi pembangkit, tetapi juga proyek-proyek sipil yang menunjang seperti pembangunan jalan, bendungan, pelabuhan dan sebagainya.

“Kok gitu, memang tidak bisa tanpa infrastruktur sipil?” tanya pembaca lagi.

Jawaban dari pertanyaan ini cukup pahit, tapi saya harus mengatakan yang sebenarnya: hampir mustahil. Pasalnya, sebagian besar sumber EBT kita banyak tersedia di daerah-daerah rural alias kawasan perdesaan. Oleh karena itulah, negeri ini masih belum bisa lepas dari energi batu bara.

IIlustrasi energi terbarukan atau hijau 

Tapi tenang saja, ada skenario lain untuk menghadirkan EBT ke tengah masyarakat, bahkan masyarakat urban. Skenario itu adalah penggunaan biogas sebagai sumber energi, saya akan jelaskan lebih lanjut tentang ini nanti. Sebelum itu, saya ingin mengajak Anda mengetahui alasan kenapa kita harus move on dari energi fosil, terutama batu bara.

Hutan dan Lingkungan, Alasan Indonesia Harus Move On dari Energi Batu Bara

Dikutip dari tirto.id, hingga Mei 2020 lalu, batu bara masih mendominasi stok pembangkit. Mineral berwarna hitam ini digunakan sebagai bahan bakar PLTU dengan jumlah kapasitas mencapai 35.216 MW (49,67%) dari total kapasitas nasional 70.900 MW. Penyumbang stok energi listrik setelahnya pun masih diikuti oleh energi fosil yaitu PLTG (gas) dengan 20.488 MW (28,90%) dan PLTD (diesel) berbasis BBM dengan 4.781 MW (6,74%).

Lalu berapa sumbangan dari sumber-sumber EBT?

Sumbangan dari kelompok EBT baru mencapai kapasitas 10.426 MW atau setara 14,71% dari total kapasitas terpasang nasional. Itu berarti 85,31% kebutuhan listrik kita masih disuplai oleh energi fosil yang notabene memberikan dampak buruk pada lingkungan dan iklim akibat gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkannya.

Ilustrasi mineral baru bara

Usut punya usut, berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik, jumlah produki GRK Indonesia dari sektor energi cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017 lalu, emisi GRK dari sektor energi diperkirakan mencapai 558 juta ton CO2e dan menjadi penyumbang terbesar dibanding sektor lainnya. Hal ini tentu harus menjadi perhatian khusus, terlebih Indonesia ikut meratifikasi Persetujuan Paris (Paris Agreement) untuk menahan laju pemanasan global di bawah 2℃.

Lantas, langkah apa yang harus kita ambil?

Langkah nyata yang perlu dilakukan adalah mengurangi pengguna sumber energi fosil, terutama batu bara. Pasalnya PLTU dengan batu bara tidak hanya membubungkan GRK secara masif dan berkelanjutan, tetapi juga merusak kawasan hutan karena proses penambangan.

Terkait bahasan ini, agaknya sudah terlalu sering mendengarkan berita tentang lubang bekas tambang batu bara yang dibiarkan begitu saja di tengah hutan. Tidak jarang juga kita mendengar, lubang tersebut menelan korban jiwa yang merupakan warga sekitar daerah tambang. Mirisnya lagi, lubang-lubang tersebut tidak sedikit. Pada tahun 2018 lalu saja, ada temuan 1.735 lubang galian tambang batu bara di wilayah Kalimantan Timur yang diterlantarkan begitu saja oleh perusahaan tambang yang membuatnya.

Semua kenyataan di atas membawa kita pada kesimpulan bahwa Indonesia memang harus benar-benar move on dari energi batu bara sebagai penyokong utama energi listrik nasional. Caranya tentu saja melirik dan menggunakan lebih banyak energi baru dan terbarukan (EBT) tadi.

Memang sebagian besar EBT membutuhkan investasi yang besar untuk bisa mengolahnya, tapi di antara semua sumber EBT agaknya ada yang lebih terjangkau dari segi biaya, tidak merusak hutan, dan dapat diolah bahkan oleh masyarakat urban. Sumber EBT itu adalah biogas dari biomassa.

Biogas: EBT Potensial yang Ramah Lingkungan dan Tidak Merusak Hutan

Di antara semua sumber energi baru dan terbarukan yang ada, menurut hemat saya, biogas dari biomassa (material organik) adalah salah satu yang terjangkau dari biaya dan mudah untuk diimplementasikan dari skala kecil hingga besar. Pun jika diimplementasikan untuk pembangkit listrik, biaya investasinya lebih rendah dibanding pembangkit listrik dari tenaga panas bumi dan air.

Biogas dapat diproduksi dari bahan-bahan yang ada di sekitar kita, utamanya limbah-limbah organik yang mana sangat melimpah jumlahnya di Indonesia. Mengutip data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jumlah timbulan sampah nasional mencapai 30,99 juta ton dengan 58,9% atau sekitar 17 juta ton darinya adalah sampah organik. Itu artinya bahan produksi biogas kita melimpah.

Selain itu, potensi pemanfaatan biogas di Indonesia mencapai 32 gigawatt (GW), hanya saja kapasitas PLT bioenergi yang berhasil dibangun baru 1.896,5 megawatt (MW). Belum setengahnya dari kebijakan energi nasional (KEN) untuk pembangkit bioenergi, yaitu 5.500 MW di 2025.

Namun memang harus diakui, penggunaan biogas–yang tersusun dari gas metana (CH4), karbon dioksida (CO2) dan beberapa gas lain–masih kurang ramah lingkungan jika dibandingkan dengan sumber EBT yang lain, akan tetapi pembakaran metana pada biogas relatif lebih bersih dari pada batu bara. Selain itu, energi yang dihasilkan lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih rendah.

Lebih jauh lagi, pembakaran CH4 pada biogas ini menjadi sangat penting karena gas tersebut jauh lebih merusak bagi atmosfer jika dibandingkan dengan karbon dioksida. Jadi, gas metana akan lebih baik jika dibakar dari pada lepas ke atmosfer begitu saja. Sedangkan karbon dioksida pada biogas nyatanya merupakan karbon dioksida yang diambil dari atmosfer melalui fotosintesis tumbuhan. Pelesapan karbon dioksida tersebut tidak begitu menambah jumlah CO2 di atmosfer seperti halnya CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara.

Dan tentu saja, pengembangan biogas akan menjaga kelestarian hutan. Bahan produksi biogas, biomassa, bukanlah hasil tambang sebagaimana batu bara yang area tambangnya umumnya di kawasan hutan. Ada pun sisa atau limbah dari produksi biogas justru bisa digunakan sebagai pupuk yang menyuburkan anak-anak pepohonan di kawasan hutan.

Tidak Hanya Bagi Industri, Biogas Juga Cocok untuk Masyarakat Urban

Tanpa terasa, kita telah sampai pada bagian terakhir tulisan ini. Omong-omong, ketika kita membicarakan energi baru dan terbarukan, memang umumnya pikiran kita akan diarahkan pada pemanfaatannya untuk pembangkit listrik, namun lebih jauh dari pada itu, EBT juga bisa digunakan untuk berbagai keperluan lain. Biogas sendiri adalah EBT yang tidak hanya bisa digunakan pada sektor industri tenaga listrik, tetapi juga dapat dimanfaatkan di komunitas masyarakat skala kecil dan rumah tangga.

Beberapa dari pemanfaatan biogas di tengah masyarakat adalah sebagai pengganti gas LPG dan juga bahan bakar kendaraan bermotor. Penggunaan biogas sebagai energi untuk menghidupkan kompor gas akan membantu mengurangi penggunakan LPG (Liquid Petroleum Gas) yang mana sebagiannya masih diimpor dari luar negeri. Sedangkan penggunaan biogas sebagai bahan bakar kendaraan mesti dikonversi terlebih dahulu menjadi gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) dan perlu penyesuaian pada mesin kendaraan agar dapat digunakan.

Pemanfaatan energi dari biogas juga akan memberikan dampak positif bagi lingkungan, yaitu terkelolanya sampah organik dengan baik, meningkatnya kualitas udara karena berkurangnya gas metana serta menghasillkan pupuk organik sebagai sisa produksi. Kabar baiknya lagi, semua manfaat dari penggunaan biogas tersebut tidak hanya bisa dinikmati oleh masyarakat rural atau kawasan perdesaan tetapi juga masyarakat urban atau perkotaan.

Biogas dapat dikembangkan dengan sampah perkotaan dengan instalasi yang dapat dibuat pada lahan terbatas. Lahan dengan ukuran 1×2 meter sudah cukup untuk membuat instalasi biogas mini untuk kebutuhan rumah tangga.

Adapun tingkat keamanan biogas lebih baik dari pada LPG. Jika LPG yang bocor mengendap ke bawah, biogas berupa metana yang bocor akan naik ke atmosfer. Namun meskipun demikian, pengguna tetap mesti waspada dengan kebocoran ini karena metana yang terakumulasi dapat merusak atmosfer.

Alhasil, pemanfaatan biogas bagi masyarakat urban dapat membantu menekan biaya hidup di perkotaan yang terbilang cukup mahal. Hanya perlu investasi di awal untuk instalasi, setelah itu biogas dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, peluang bisnis dari biogas juga terbuka lebar dengan cara membangun instalasi produksi biogas dengan sambungan pipa ke tempat-tempat pengguna.Biogasnya bisa dijual, pupuk organiknya bernilai ekonomi juga. Oleh karena itu, tak berlebihan jika pada akhirnya pemanfaatan biogas disebut sebagai satu dari 1000 Gagasan untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan tanpa merusak lingkungan dan hutan.

Nah, setelah semua penjelasan di atas, apa yang kini ada di pikiran Anda? Tertarik untuk mengembangkan biogas juga? Tidak perlu dalam skala besar, buat dengan skala rumah tangga saja dulu meski Anda berdomisili di wilayah perkotaan. Tidak hanya sebagai sumber energi, produksi dan pemanfaatan biogas juga menjadi solusi pengelolaan sampah organik berkelanjutan. Ramah lingkungan dan tentu saja juga ramah terhadap hutan. Yuk, ambil andil dalam menggunakan energi baru dan terbarukan demi menyelamatkan bumi.[]

#1000GagasanEkonomi #Selamatkanhutan #TemenanLagi #IndonesiaTangguh

 

Referensi :

error: Konten dilindungi