Pasir Pantai Katapiang, Padang Pariaman, Sumatra Barat (Dok. Pribadi)

Menjaga Laut yang Padanya Banyak Hal Bermuara

oleh | Jul 6, 2020

Sungguh, sebagai anak yang lahir dan tumbuh di daerah pesisir saya merasa malu. Mulai karena hal yang sepele hingga paling penting. Mohon izinkan saya menceritakan ke semua itu, bukan semata sebagai curahan hati anak pesisir, tetapi juga sebagai pesan yang harus Anda sitir.

Ya, mungkin saja ke blog Anda sendiri, atau ke dalam sanubari. Hingga pada akhirnya semua apa yang akan saya tuliskan nanti memberikan nilai tambah yang pantas sebagai tukaran dari waktu yang Anda investasikan untuk membaca tulisan ini.

Dua puluh delapan tahun  yang lalu, atas izin dan rahmat Allah, saya dilahirkan di sebuah desa di pinggiran pesisir barat Sumatra. Tepatnya di suatu nagari yang disebut Katapiang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat.

Meskipun jarak bibir pantai ke rumah saya tak lebih dari 2 kilometer saja, saya tak akrab dengan laut. Mencintai laut agaknya tak cukup dengan mendengar debur ombaknya saja—di kala subuh dari rumah.

Ah, memang kesibukan bersekolah ke kecamatan sebelah membuat saya tak banyak waktu untuk menyesapi bau pasir pantai yang putih—berikut dengan sejuknya semilir anginnya.

Bahkan hingga setelah saya lulus S3 pun, saya tak berani mengklaim diri sebagai “anak pantai”. Sebab kata teman saya dulu, bukan anak pantai kalau tidak bisa berenang.

….dan saya lah orangnya yang tak pandai berenang itu.

Tapi meskipun demikian, saya masih sempat berpikir untuk memajukan pariwisata laut di desa saya.

Meski masih menjadi sebuah wacana, tapi sebagai anak desa tentu saya harus punya mimpi untuk memberikan kontribusi yang nyata, bukan?

Pesisir Pantai dan Laut yang Belum Terjaga

Suatu hari, secara tidak sengaja, saya menemukan komentar di salah satu jejaring media sosial bahwa India adalah negara yang masih bermasalah dengan budaya penggunaan kakus yang bersih dan sehat. Bagaimana tidak, negara tersebut menjadi juara 1 dalam hal buang hajat sembarangan.

Dikutip dari Tirto.id, masalah sosial tersebut mendorong Narendra Modi, perdana menteri India, mengumumkan inisiatif unggulan Swachh Bharat Abhiyan (Gerakan India Bersih) sejak Oktober 2014 lalu [1]. Nah, di jejaring media sosial tersebut, salah seorang pengguna mengejek negara itu tapi sayangnya ia tidak tahu kalau Indonesia mengekor di belakangnya. Jelasnya, Indonesia adalah juara 2 dalam hal buang hajat sembarangan.

Anda merasa miris? Ya, saya juga.

Saya sengaja mengutip informasi itu, karena semenjak saya masih kanak-kanak, saya hampir selalu menemukan orang yang buang hajat sembarangan di pinggir pantai setiap saya mampir untuk menghirup angin pagi di hari Ahad saat kami didikan subuh. Itu terjadi kira-kira sekitar awal tahun 2000-an.

Lebih lanjut, permasalahan sanitasi di daerah pesisir agaknya masih menjadi masalah yang belum terpecahkan sepenuhnya. Berbagai penelitian bahkan masih dilakukan terkait perilaku masyarakat pesisir pantai yang buang hajat di pinggir pantai.

Sebagai contoh, studi kasus yang dilakukan oleh dua orang peneliti dari Universitas Halu Oleo, Kendari [2]. Mereka melaporkan bahwa baru 71% dari warga pemukiman pesisir di Kelurahan Patoaha, Kota Kendari yang sudah punya jamban di rumahnya.

Tapi, apakah masalah yang berkaitan dengan pantai dan laut hanya itu saja? Kabar buruknya, ternyata TIDAK. Indonesia masih memiliki banyak masalah dalam hal penjagaan laut. Beberapa masalah yang menurut saya krusial saya lampirkan di bawah.

Pemanasan Global

Sebagian besar gas karbon dioksida CO2 yang diproduksi manusia diserap lautan dan membuatnya menjadi panas. Hal ini mempengaruhi banyak hal di lautan seperti pemutihan karang, pola migrasi ikan dan berubahnya arus samudra.

Penangkapan Ikan Berlebihan

Meski laut kita memang kaya dengan sumber daya, penangkapan ikan yang berlebihan dalam mengancam spesies ikan di laut. Selain itu, permasalahan penangkapan ilegal juga menjadi masalah besar yang dihadapi negara kita

Perjalanan Ekspedisi Laut

Kapal komersil yang lalu-lalang di lautan juga berkontribusi dalam merusak laut. Hal ini dikarenakan banyak kapal yang mengalami kebocoran bahan bakar yang limbahnya merusak lautan, paus dan mamalia laut yang ditabrak hingga jangkar-jangkar yang merusak terumbu karang.

Pariwisata

Hampir semua orang menyukai pantai, tapi sayangnya pertumbuhan wisata pantai yang tidak teratur dan tidak dikelola dengan baik bisa sangat merusak laut. Gampangnya, yang paling mudah dilihat adalah produksi sampah dan polusi yang dihasilkan pengunjung.

Pengasaman

Gas CO2 yang larut di dalam laut akan membentuk asam karbonat. Peningkatan kadar asam karbonat ini dapat mengganggu proses kawin hewan laut. Air yang sama juga akan mempersulit ikan mendeteksi predator. Jika ini terus berlanjut, potensi hasil laut akan semakin berkurang.

Polusi Plastik

Diperkirakan belasan juta ton plastik berakhir di laut setiap tahun. Nah, plastik ini sering dikira makanan oleh makhluk. Plastik itu tidak hanya membunuh makhluk laut, tapi juga bisa perlahan membunuh manusia yang mengkonsumsi hasil laut yang telah terkontaminasi plastik mikro dan nano.

Anjungan Lepas Pantai

Mengutip data SKK MIGAS (per tahun 2019) Indonesia telah memiliki 613 anjungan lepas pantai yang terpancang. Lebih dari 50% nya sudah berusia lebih dari 20 tahun, sedang hampir 25% berada di rentang 16-20% [3]. Pengeboran dan pencairan jelas saja merusak laut kita.

Berbagai permasalahan yang sudah disebutkan tadi kerap kali membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk menyelesaikannya. Namun kenyataan yang lebih pahit adalah, semua itu adalah ulah kita sendiri, manusia. 

Laut Perlahan Pulih Semenjak Covid-19 Melanda

Negeri ini terguncang ketika pemerintah mengumumkan temuan kasus penderita Covid-19 pada awal Maret 2020 lalu. Seluruh orang di negeri ini agaknya panik dan memilih untuk “mengunci” diri di kediaman masing-masing. Sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilakukan banyak sektor kehidupan yang mengalami kesulitan. Namun kabar baiknya, laut dan alam pada umumnya justru mendapatkan waktu itu berehat sejenak dari eksploitasi manusia.

Ada sebuah pembicaraan menarik yang bisa disimak tentang hal ini, terutama yang berkaitan dengan laut sebagai topik utama pembahasan kita. Kantor Berita Radio (KBR) baru-baru ini menggelar sebuah siaran bertajuk Ruang Publik KBR atau serial podcast dengan tema “Menjaga Laut di Tengah Pandemi”.

Agenda yang dilangsungkan pada 26 Juni 2020 lalu untuk mengundang serta dua orang narasumber berkompeten yaitu Prof. Muhammad Zainuri selaku Guru Besar Kelautan Universitas Diponegoro dan Githa Anathasia selaku pengelola Kampung Wisata Arborek dan CEO Arborek Dive Shop Raja Ampat, Papua Barat. Anda bisa mendengarkan siaran tersebut di tautan berikut ini: https://www.kbrprime.id/listen.html?type=story-telling&cat=ruang-publik&title=menjaga-laut-di-tengah-pandemi

Saya mencatat beberapa poin menarik dalam perbincangan penyiar KBR, Don Brady, dengan dua narasumber tersebut.  Perbincangan yang benar-benar menambah cakrawala kita terhadap bahaya yang mengancam laut dan cara menjaganya.

Menurut penuturan Mbak Githa, ekosistem Raja Ampat sebelum pandemi benar-benar sangat terpengaruh dengan keberadaan turis atau wisatawan, itu dikarenakan tidak semua turis yang paham bagaimana menjaga ekosistem laut. Semenjak tidak (mungkin tepatnya “belum”) ada turis lagi, (kerusakan laut) sangat jauh berkurang, pertumbuhan karang jadi cepat, jumlah ikan bertambah.

Lebih lanjut, beliau mengungkapkan berbagai dampak positif lainnya dari pandemi terhadap laut seperti masyarakat lokal mulai kembali ke pekerjaan-pekerjaan awalnya seperti menjadi nelayan dan berkebun—setelah sebelumnya sibuk mengurusi homestay. Hubungan sosial antar masyarakat juga membaik.

Kalau boleh jujur, saya punya impian untuk mengelola pantai di kampung saya sebagai objek wisata yang lebih baik, tapi setelah mendengar cerita Mbak Githa, saya jadi punya gambaran bahwa menjaga pantai yang dibuka untuk destinasi wisata itu bukan hal yang mudah—setidaknya  untuk mengurusi sampah. Sebab seperti apapun himbauan dari pengelola, ada saja pengunjung yang buang sampah sembarangan.

Dekorasi Batu di Pantai Kata, Pariaman, Sumatra Barat (Dok. Pribadi)

Sampah di Pantai Gandoriah, Pariaman, Sumatra Barat (Dok. Pribadi)

Nah, jika tadi Mbak Githa bicara berkaitan dengan pariwisata, narasumber kedua yaitu Prof. Zainuri mengatakan bahwa laut sekarang membaik sebab adanya respon alam, buangan industri yang dulunya pergi ke muara, kini berubah ke buangan rumah tangga yang umumnya bahan organik yang bisa jadi stimulator untuk populasi ikan. Periode pandemi yang dimulai akhir Januari hingga sekarang, itu periode reproduksi hampir seluruh biota laut. Makanya tak heran jika lebih banyak ditemukan biota laut, dan ikan-ikan pun lebih besar.

Pasca mendengar penuturan kedua narasumber tersebut saya jadi berkesimpulan “Apa sebaiknya laut kita biarkan alami tanpa adanya sentuhan tangan manusia?”. Itu mungkin menjadi sebuah solusi tapi nyatanya kita tidak bisa berlepas diri dari lautan itu, karena hampir semua hal bermuara padanya. Maka, mau tidak mau kita harus mengambil pilihan kedua: tetap mengeksplorasi laut dengan “protokol ketat” dalam penjagaannya. Yah, kan semua hal ada protokolnya—bukan cuma protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19 saja.

Cara Mudah Untuk Menjaga Laut

Melarikan diri dari tuduhan bahwa kita, manusia, lah yang merusak alam agaknya hal yang mustahil untuk dilakukan. Bagaimana pun kita harus mengakui bahwa “keserakahan” dan “kecerobohan” kita membuat alam menjadi sakit-sakitan. Hanya saja, manusia yang cerdas tentu belajar tentang bagaimana ia bisa menebus kesalahannya dan berbalik menjaga alam yang telah menjaganya.

Nah, menjaga alam, terutama laut, tidaklah perlu muluk-muluk. Saya bisa menuliskan suatu hal yang lebih teoritis tentang bagaimana sebaiknya alam bisa dijaga, tapi itu mungkin bukan konsumsi kita. Biarlah ahli kelautan dan orang-orang yang berwenang melakukan itu. Sementara kita sebagai masyarakat umum—dan tentu saja sebagai wisatawan yang gemar menghampiri pantai dan laut—bisa melakukan beberapa penjagaan sederhana sebagai berikut ini.

Berhenti membuang sampah ke aliran air

Salah satu permasalahan terbesar yang berkaitan dengan laut adalah sampah, khususnya sampah plastik. Hal ini bahkan saya jadikan latar belakang ketika mengembangkan disertasi tentang biokomposit di studi S3 saya. Indonesia bahkan menjadi negara terbesar kedua sebagai penghasil sampah plastik ke lautan setelah Cina [4].

Lantas, dari mana plastik itu berasal? Jawabannya adalah dari ketidakpedulian masyarakat (baik umum maupun industri) yang membuang limbah ke aliran air. Seseorang mungkin saja cuma membuat sebuah botol plastik di selokan, tapi air selokan akan mengalir dan bermuara ke laut, begitu juga dengan sampah itu. Oleh karena itu, jika kita ingin menyelamatkan laut, berhentilah membuang sampah ke aliran air.

Menjadi wisatawan yang cerdas

Seperti yang diungkapkan Mbak Githa dan Prof. Zainuri dalam Ruang Publik KBR tadi, serta beberapa permasalahan yang berkaitan dengan laut yang sudah saya tuliskan, menjadi wisatawan cerdas agaknya adalah sebuah kewajiban. Memang kita membayar ketika memasuki sebuah wisata alam seperti wisata bahari atau laut, tapi bukan berarti kita bisa membuang sampah sembarangan dengan anggapan “Kan udah bayar, masa gak ada petugas kebersihannya”.

Bayangkan saja, andai alam meminta bayaran pada kita atas semua hal yang sudah kita ambil darinya, akankah cukup kekayaan kita untuk itu? Tidak, bahkan untuk udara gratis untuk bernapas sehari saja. Oleh karena itulah, setiap kita mesti belajar bagaimana menjaga laut ketika kita berwisata. Itu bukan sesuatu yang sulit kok, sungguh.

Tidak membuang-buang makanan dari hasil laut

Penangkapan ikan yang berlebihan bisa merusak ekosistem laut, namun itu semakin diperparah ketika masyarakat malah tidak menghabiskan apa yang sudah dikeruk dari lautan itu. Sebagai contoh, membuang-buang makanan dari hasil laut.

Pemerintah kita sudah membuat regulasi terkait penangkapan ikan dan hasil laut lainnya. Nah tugas kitalah membuat hasil laut tersebut menjadi tepat guna dan efektif sebagai bentuk rasa syukur dan penjagaan terhadap laut kita. 

Konsumsi energi dengan hemat

Pemanasan global menjadi penyebab kerusakan laut lainnya. Saat berbagai kalangan berupaya untuk menahan laju pemanasan global, tentu kita juga mesti berkontribusi. Salah satu kontribusi yang bisa dilakukan untuk menjaga laut dari pemanasan global adalah dengan menghemat konsumsi energi.

“Lho, apa hubungannya?”

Ada, erat sekali malah. Untuk kita semua ketahui, sumber energi terbesar kita saat ini masih dari pembangkit tenaga uap yang membakar batu bara. Hasil pembakaran ini menghasilkan emisi karbon dioksida yang tidak sedikit, mencapai ratusan juta ton setiap tahunnya. Jadi kalau kita hemat energi, berarti kita mengurangi emisi karbon dioksida itu.

Berkontribusi mengedukasi masyarakat tentang pemanasan global dan penjagaan laut

Solusi penjagaan laut yang menurut saya paling sulit adalah mengedukasi masyarakat tentang pemanasan global dan penjagaan laut. Kenapa ini sulit? Ya karena tingkat pendidikan masyarakat berbeda-beda. Di awal saya sudah menyinggung soal budaya menggunakan bibir pantai sebagai jamban, dan itu satu masalah dari banyaknya masalah yang ada.

“Lalu, bagaimana cara kita memulai ini?”

Saya dan Anda bisa memulainya dengan melakukan apa yang bisa kita lakukan secepat dan sebaik mungkin. Sebagai contoh, saya yang seorang blogger bisa menulis artikel edukasi tentang penjagaan laut—seperti yang sedang Anda baca ini. Selain itu saya bisa mengedukasi keluarga saya di kampung terlebih dahulu. Intinya mulailah dari yang termudah.

Pada akhirnya, menjaga laut memang bukan hal yang mudah. Terlebih banyak hal yang sudah terlanjur dan akan butuh waktu yang lama untuk memulihkannya. Namun meskipun demikian, memilih pesimis dan tidak bergerak bukanlah sebuah pilihan yang baik. Yuk lakukan apa saja yang kita bisa untuk menjaga kekayaan laut Indonesia. Saya yakin kita semua bisa.[]

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini 

cara mudah menjaga laut

Referensi:

[1] Tirto. India Juara Satu Buang Hajat Sembarangan, Indonesia Nomor Dua. https://tirto.id/india-juara-satu-buang-hajat-sembarangan-indonesia-nomor-dua-c1nU

[2] Rudi Balaka dan Tryantini Sundi Putri. Gambaran Sanitasi Pemukiman di Daerah Pesisir (Studi Kasus : Pemukiman Pesisir di Kelurahan Petoaha, Kota Kendari). STABILITA Vol. 7, No. 2, Juni 2019.

[3] Erdina Arianti dan Abd. Ghofur. Teknologi Decommissioning Anjungan Lepas Pantai Terpancang Pasca-Operasi. Jurnal Inovtek Polbeng, Vol. 9, No. 2, November 2019.

[4] Jenna R. Jambeck dkk. Plastic waste inputs from land into the ocean. Science 347.6223 (2015): 768-771.

Ilustrasi berupa vektor adalah koleksi pribadi penulis dari situs berlangganan vektor legal.

error: Konten dilindungi